Draft Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pemantauan dan Pengolahan Limbah Cair di Surabaya dinyatakan telah rampung. Kini draft tersebut tinggal menunggu fasilitasi dari Gubernur Jatim Soekarwo untuk disetujui dan ditindak lanjuti. Hal ini seperti yang diutarakan oleh Ketua Panitia Khusus (Pansus) Limbah Cair Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Sura baya Pertiwi Ayu Khrisna, Jumat (24/6). http://harga.web.id/daftar-harga-jam-tangan-murah-casio-g-shock.info
“Sudah selesai dan sudah kami serahkan ke provinsi kemarin, semoga Pak Gubernur menyetujui,” ujarnya. Anggota Komisi A DPRD Surabaya ini menambahkan, bahwa pembuatan draft Raperda tersebut memang tidak membutuhkan waktu lama. Pansus yang semula di beri waktu sekitar 15 hari untuk menyelesaikan draft tersebut, dapat terselesaikan hanya dalam waktu sembilan hari.
Ayu menjelaskan, dalam rancangan Raperda tersebut, berisi tentang pengawasan terhadap pembuangan limbah domestik atau rumah tangga. Bagi masya rakat atau instansi yang nantinya melanggar Perda ini akan mendapatkan sanksi. Maka akan ada pengawasan siapa atau peru sahaan mana saja yang sering membuang limbah atau memanipulasi pengolahan. Oleh sebab itu, lanjut dia, komisi A telah melakukan pengumpulan data. Termasuk sidak lapangan di sejumlah pabrik, bangunan apartemen, dan rumah di sekitar bantaran kali. “Karena Pemkot Surabaya butuh sekali (Raperda) ini untuk segera diterapkan,” kata Ayu
sumber: radar surabaya
Tampilkan postingan dengan label lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lingkungan. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 25 Juni 2016
Jumat, 01 April 2016
Energi baru dan terbarukan untuk tenaga listrik
Pemerintah terus berusaha memanfaatkan energi baru dan terbarukan (EBT) sebagai sumber listrik. Pemanfaatan EBT ini disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Sudirman Said mengatakan, setidaknya pemanfaatan EBT bisa mencapai 20 persen dari pembangkit listrik yang ada. “Potensi EBT untuk listrik sangat besar. Bahkan bisa mencapai 350.000 MW. Karena itulah, kami akan terus mendorong agar pemanfaatan EBT bisa lebih banyak, atau berkontribusi hingga 20 persen dari kapasitas listrik nasional,” ujarnya ketika ditemui dalam acara seminar Kebijakan Subsidi Listrik Tepat Sasaran dan Pemanfaatan EBT di Surabaya, kemarin (31/3). http://www.juandaairport.com/2015/11/bmkg-juanda-surabaya.html
Ia menambahkan, pihak nya siap mengembangkan pembangkit listrik EBT dengan skala besar hingga 5.000 MW. Hal tersebut dikarenakan hingga saat ini, kebanyakan pembangkit listrik EBT hanya digunakan sebagai pilot projek dan tidak dioperasikan. “Dengan begitu, tentu akan menarik minat investasi asing. Selain itu juga bisa menjadi jaminan keberadaannya yang akan terus di pelihara dibanding dengan investasi dalam skala yang lebih kecil,” bebernya.
“Indonesia membutuhkan Rp 260 triliun untuk reformasi energi. Termasuk subsidi bagi pembangkit dengan EBT dan pengembangan listrik di pulau terpencil,” ungkap Said. Saat ini Indonesia baru meman faatkan energi listrik dari EBT di kisaran 6 7 persen dari total kapasitas listrik nasional sebesar 57.000 Megawatt (MW).
Terpisah Kepala Humas PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X, Ahmad Zaenal Arifin mengatakan bahwa saat ini pihaknya telah memiliki bioetanol sebagai sumber energi terbarukan. “Dari tetes tebu itu di Mojokerto itu, PTPN X mampu meng hasilkan 100 kilo liter energi,” ujarnya. Selain itu, PTPN X juga membangun pabrik pembangkit listrik yang meman faatkan energi dari ampas tebu. Saat ini sudah ada tiga tempat untuk memproduksi listrik, yakni di Ngadirejo (Kediri), Gempolkerep (Mojokerto), dan Jombang. “Dari ketiga tempat itu, ka mi bisa menghasilkan energi listrik sebesar 50 MW.
Rincinannya, 20 MW dari Ngadirejo, 20 MW dar Gempolkerep dan 10 MW dari pembangkit yang ada di Jombang,” ungkapnya. Dari hasil tersebut, PTPN X akan terus melakukan pengembangan.
sumber: radar surabaya
Ia menambahkan, pihak nya siap mengembangkan pembangkit listrik EBT dengan skala besar hingga 5.000 MW. Hal tersebut dikarenakan hingga saat ini, kebanyakan pembangkit listrik EBT hanya digunakan sebagai pilot projek dan tidak dioperasikan. “Dengan begitu, tentu akan menarik minat investasi asing. Selain itu juga bisa menjadi jaminan keberadaannya yang akan terus di pelihara dibanding dengan investasi dalam skala yang lebih kecil,” bebernya.
“Indonesia membutuhkan Rp 260 triliun untuk reformasi energi. Termasuk subsidi bagi pembangkit dengan EBT dan pengembangan listrik di pulau terpencil,” ungkap Said. Saat ini Indonesia baru meman faatkan energi listrik dari EBT di kisaran 6 7 persen dari total kapasitas listrik nasional sebesar 57.000 Megawatt (MW).
Terpisah Kepala Humas PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X, Ahmad Zaenal Arifin mengatakan bahwa saat ini pihaknya telah memiliki bioetanol sebagai sumber energi terbarukan. “Dari tetes tebu itu di Mojokerto itu, PTPN X mampu meng hasilkan 100 kilo liter energi,” ujarnya. Selain itu, PTPN X juga membangun pabrik pembangkit listrik yang meman faatkan energi dari ampas tebu. Saat ini sudah ada tiga tempat untuk memproduksi listrik, yakni di Ngadirejo (Kediri), Gempolkerep (Mojokerto), dan Jombang. “Dari ketiga tempat itu, ka mi bisa menghasilkan energi listrik sebesar 50 MW.
Rincinannya, 20 MW dari Ngadirejo, 20 MW dar Gempolkerep dan 10 MW dari pembangkit yang ada di Jombang,” ungkapnya. Dari hasil tersebut, PTPN X akan terus melakukan pengembangan.
sumber: radar surabaya
Langganan:
Postingan (Atom)